SUARAINDOTIMUR.COM, MBAY — Keputusan pelatih timnas Prancis, Didier Deschamps, yang tidak sekalipun memainkan N’Golo Kante sepanjang Piala Dunia 2026 kembali menjadi bahan perbincangan hangat. Sorotan terhadap kebijakan itu menguat setelah Les Bleus tersingkir di semifinal usai kalah 0-2 dari Spanyol, hasil yang memunculkan pertanyaan besar mengenai pilihan Deschamps dalam meracik lini tengah.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Di tengah kekecewaan publik Prancis, dua nama besar sepak bola dunia ikut angkat bicara, yakni Thierry Henry dan Jose Mourinho. Keduanya menilai keputusan Deschamps untuk terus menyimpan Kante di bangku cadangan sebagai langkah yang sulit dipahami, terlebih ketika tim justru membutuhkan sosok berpengalaman untuk menjaga keseimbangan permainan.

Thierry Henry menjadi salah satu pihak yang paling keras menyampaikan kritik. Legenda Arsenal dan timnas Prancis itu menilai, mencadangkan Kante sepanjang turnamen merupakan keputusan yang berisiko besar karena menghilangkan salah satu elemen paling penting dalam permainan Les Bleus, yakni kemampuan mengontrol tempo dan memutus serangan lawan sejak dari lini tengah.

Menurut Henry, saat menghadapi Spanyol, Prancis tampak kehilangan pemain yang mampu memenangkan duel-duel krusial, menutup ruang, sekaligus memberi perlindungan bagi barisan pertahanan. Dalam pandangannya, kualitas seperti itu selama bertahun-tahun melekat pada diri Kante dan menjadi salah satu alasan mengapa Prancis begitu tangguh di turnamen-turnamen besar.

Bagi Henry, Kante bukan hanya gelandang bertahan yang piawai merebut bola. Lebih dari itu, pemain berusia 35 tahun tersebut dianggap sebagai sosok pekerja keras yang kerap bekerja dalam senyap, tetapi memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas tim. Kehadirannya, kata Henry, sering kali membuat rekan setim bermain lebih tenang dan percaya diri, terutama dalam pertandingan dengan intensitas tinggi.

Kritik serupa juga datang dari Jose Mourinho. Pelatih asal Portugal itu disebut menyoroti keputusan Deschamps dengan nada kecewa. Dalam pernyataan yang beredar luas di media sosial, Mourinho mengaku lebih heran melihat Kante dipanggil ke skuad tetapi tidak dimainkan satu menit pun, ketimbang sekadar menerima kenyataan bahwa Prancis gagal melangkah ke final.

Mourinho mengingat kembali peran penting Kante saat Prancis menjuarai Piala Dunia 2018. Ketika itu, duet Kante dan Paul Pogba menjadi fondasi kuat di lini tengah, membantu Prancis tampil solid dalam bertahan sekaligus efektif saat menyerang. Menurut Mourinho, absennya Kante dari lapangan pada Piala Dunia 2026 membuat Prancis kehilangan kendali permainan di banyak fase pertandingan.

“Saya tidak tahu bagaimana hati nuraninya akan menilai hal itu,” ujar Mourinho, merujuk pada keputusan Deschamps yang tidak memberi kesempatan bermain kepada Kante Rabu 15 Juli 2026.

Di sisi lain, laporan dari internal timnas Prancis menyebutkan bahwa Kante tidak mengalami cedera pada fase akhir turnamen dan berada dalam kondisi cukup bugar untuk tampil. Meski demikian, Deschamps tetap memilih opsi lain di lini tengah, sebuah keputusan yang kini dipertanyakan setelah Prancis gagal menembus partai puncak.

Absennya Aurelien Tchouameni akibat cedera ternyata tidak mengubah pandangan sang pelatih. Kouadio “Manu” Kone justru dipercaya sebagai pengganti utama dan tampil sebagai starter dalam empat pertandingan. Bahkan ketika Prancis membutuhkan perubahan di lini tengah pada laga perempat final melawan Maroko, Deschamps lebih memilih memasukkan Warren Zaire-Emery ketimbang Kante.

Rangkaian keputusan itu memperlihatkan bahwa Deschamps memang tidak menempatkan Kante sebagai bagian dari rencana utamanya di turnamen ini, meski sang gelandang memiliki pengalaman panjang dan rekam jejak gemilang bersama tim nasional. Situasi tersebut membuat banyak pihak menilai Prancis kehilangan figur yang seharusnya bisa menjadi penyeimbang di tengah tekanan besar turnamen.

Hingga kini, Deschamps belum memberikan penjelasan rinci mengenai alasan di balik keputusannya tidak memainkan Kante. Namun, setelah Prancis gagal melaju ke final, kebijakan itu menjadi salah satu isu yang paling banyak diperdebatkan dan terus memicu kritik dari berbagai kalangan sepak bola.(SI)